Dua tahun tinggal di kota berseri, nampaknya memberiku banyak arti.
Sebuah makna persahabatan di kampus, arti kekeluargaan disebuah
organisasi, terlebih sebuah arti cinta yang kutemui di kota ini.
Di pertengahan tahun 2007,… dalam sebuah ruangan, aku dan teman-teman
mulai membicarakan untuk kemajuan sebuah forum. Meski baru setahun forum
ini didirikan nampaknya banyak orang yang mulai bersimpati hingga ingin
sekali mengikuti kegiatan-kegiatannya. Aku dan teman-teman pun
bertambah azzam dan semangat untuk terus mengembangkan forum ini sebagai
salah satu sayap di organisasi tarbiyah yang juga belum begitu lama aku
ikuti.
Sore,… selepas rapat aku pun mulai beristirahat di sebuah
kost yang cukup mungil dengan satu kamar ukuran 3 x 2 m. Sejenak ku
merebahkan tubuh ini yang terlihat lelah sembari menanti adzan magrib.
Tiba-tiba HP-ku berdering, ada sms masuk dari seseorang, namanya Maziah
(nama samarannya).
“Akhi, bagaimana keadaannya hari ini? Capek tidak?”
“Alhamdulillah. Lumayan juga.” Balasan sms-ku.
“Sudah petang, sudah makan belum?”
“Oh
iya, belum. Terima kasih sudah diingatkan. Perutuku yang keroncongan
terdengar sampai disana ya. ^_^” canda ku membalas sms-nya.
Pagi,
siang, dan malam-pun silih berganti. Aku dan teman-teman se-forum
sepakat mengadakan silaturahim keliling ke pengurus tertua, agar ikatan
ukhuwah ini senantiasa terus terbina. Nampaknya benar, aku sangat
merasakan arti kehangatan kebersamaan, kekeluargaan meski kami tiada
hubungan darah sekalipun.
Saat kami bersama salah satu temanku berkata:
“akh, dapat salam dari Maziah. Ehem-ehem.”
Aku
pun cuma tersenyum. Sudah menjadi kebiasaan temen-temenku senangnya
nggodain orang. Tapi ku berkhusnudzon saja, mereka mengatakan hal itu
karena sebatas canda saja dalam hangatnya ukhuwah ini.
Ramadhan 1428 H… Kala
itu aku dan teman-teman mengadakan acara buka puasa bersama.
Alhamdulillah, banyak orang yang mengikuti acara ini, hingga tak begitu
terasa, malam pun singgah. Satu persatu, mereka mulai keluar, pulang ke
rumah masing-masing, karena banyak yang rumahnya jauh. Barangkali takut
kemalaman.
Tapi beberapa diantara kami, pengurus, masih asyik
ngobrol-ngobrol di depan aula acara sembari membereskan tempat yang
terlihat kotor. Sesaat ada seorang akhwat, yang sudah aku anggap sebagai
kakak, mendekatiku. Barangkali karena aku yang dituakan disitu.
“Akh, Maziah mau pulang, tapi tidak ada teman.”
“Memang rumahnya mana?” tanyaku.
“Karanganyar.”
“Ya
nanti kita antar bareng-bareng saja. Tak sholat isya’ dulu.” Aku
mencoba memberi solusi kepadanya. Jam 19.30 aku, temanku Akh Bee dan
satu temanku akhwat, namanya Ukh A, beranjak untuk mengantarkan Maziah
pulang. Perjalanan yang cukup jauh. Aku berjalan mengendarai motor
dibelakang Ukh A yang memboncengkan Maziah. Canda teman-temenku waktu
silaturahim, terbuka di memoriku. Di sela-sela mengendarai motor, aku
memperhatikan Maziah yang ada di depanku. Tapi gelapnya malam membuat
aku tak begitu jelas melihat wajahnya dengan kepala berhias jilbab.
Satu
jam lebih perjalanan dari kota berseri, tiba juga aku dan teman-teman
di rumah Maziah. Kami dipersilahkan masuk, dan di suruh memimun kopi
yang sudah dibuatkan oleh keluarganya. Disaat-saat itulah aku dan
teman-teman memintakan maaf, karena malam-malam mengantar Maziah pulang.
Dan Alhamdulillah keluarganya pun memahami kami. Mereka juga berterima
kasih kepada kami karena sudi mengantar Maziah dan mewarkan untuk
singgah kembali sewaktu-waktu.
Sebelum pamitan, sejenak aku melihat
wajah Maziah. Wajah yang begitu jernih dengan paras yang cantik,
sesekali ia-nya tesenyum malu kepadaku. Dan tak tau kenapa hati ini pun
bergetar, ingin ku mengungkapkan kata kepadanya. Tapi apa daya, semuanya
hanya tertahan di hati.
Sampai di rumah, bayang-bayang wajahnya
kian menghantui. Ingin ku menyenandungkan syair yang pernah dilantunkan
salah satu munsyid Malaysia:
“Debar hatiku membisik rindu
Ingin aku katakan kau gadis idaman
Adakah mungkin kau ku miliki
Untuk aku jadikan insan bernama kekasih
Keayuan yang tergambar lukisan nur iman
Bertemankan keindahan santun perkataan
Bagai putih salju mendinginkan hangat perasaan
Terukir segala resah di jiwa”
Biar pun begitu, ku sandarkan semuanya kepada Allah semata. Jika
memang dia jodohku, semoga Allah kan mempertemukanku dengannya dalam
ikatan suci. Dan aku harus bisa menjaga semua ini, biar semua ungkapan
cinta teruari saat pernikahan nanti.
Suatu hari dia sms kepadaku:
“Bismillah. Akhi, kaifa khaluka? Tilawahnya sudah nyampe mana?”
“Alhamdulillah, khair. Wah sampai mana ya, saya tidak bawa al Qur’an jadi tidak tau nyampe mana.” Jawabku via sms juga.
“Akhi, boleh ana tau apa yang antum rasakan?”
Aku
pun menggerutkan alis, dengan seribu tanya. Aku ga tau apa yang dia
katakan. Sejenak aku cuma terdiam, tapi dia sudah mengirim sms lagi,
“Akhi, kenapa tidak dijawab? Apakah di hati akhi ada rasa untuk ana?”
Aku
mulai memahami, kalau dia mengungkapkan rasa cintanya kepadaku. Mataku
mulai berkaca-kaca, baru kali aku merasakan ungkapan cinta seorang
akhwat kepadaku. Apalagi sebenarnya aku juga menaruh rasa cinta itu
kepadanya. Bulir-bulir Kristal ini keluar karena bahagia. Aku mencoba
membalas sms itu:
“Ukhti, rasa ini hanya Allah yang tau. Jika jodoh semoga Allah mempertemukan kita.”
“Jazakallah akhi. Do’akan Ana semoga nanti lulus dengan hasil yang memuaskan.”
“Hamasah.” Jawabku.
Juni 2008… Inilah hari-hari bersejerah bagi Maziah. Dia mulai melepaskan baju putih abu-abunya. Tak lupa dia sms kepadaku:
“Alhamdulillah akhy, ana lulus. Jazakallah atas doanya selama ini. Dapat salam dari Kakak Ana.”
Tak
tau kenapa rasa bahagia pun jua menyelimuti hatiku, ketika mendengar
dia lulus. Aku juga dikenalkan dengan Kakaknya yang baru pulang dari
Malaysia. Bahkan Kakaknya yang sering memotivasi agar aku bisa
meminangnya. Hingga timbul rasa, ingin mengkhitbah Maziah. Tapi dia mau
melanjutkan ke Ma’had dan akhirnya niatan ini aku urung.
Sebulan
saat dia di Ma’had, tidak ada sms darinya, karena disana tidak boleh
memakai HP dan berkomunikasi, terlebih dengan lawan jenis, kecuali
keluarganya. Tapi tak tau kenapa, suatu hari ia beranikan diri untuk
menelponku dari wartel, cuma menanyakan kabarku. Setelah itu ia menutup
kembali telponnya. Aku merasa jadi tersiksa. Ataukah dia pun juga merasa
tersiksa.
Aku pun mengadu kepada-Nya; “ya Allah jagalah hati hamba dan hatinya.”
Ku sampaikan salam ucapan mesra
dan merisik khabar berita
Masihkah ada peluang
Untukku melafaz kesyukuran
Umpama rembulan jatuh ke riba
Mendengar khabaran dariNya
Padaku kau memendam rasaTiga bulan berlalu, ada kabar kalau dia sakit. Diapun sms kepadaku, “Akhy, bagaimana kabarnya? ”
Aku pun membalas sms-nya, “Alhamdulillah khair, wa anti?”
“Alhamduillah, Ana sedang diberi ujian oleh Allah sakit. Sekarang Ana masih di Ma’had, dan ini pakai nomernya Abi”.
“Semoga cepat sembuh. Sudah malam, segera istirahat saja, nanti kalau ketahuan sms di marahi lho.”
“Hmm… Ni Ana ada di ruang UKS, Abi sama ketua Mah’ad sedang ngobrol di ruang tamu.”
Kemudian
kucukupkan sms-nya karena sudah malam dengan meninggalkan sms,
“Belajarlah yang giat selama di Ma’had. Semoga apa yang kamu citakan
kelak tercapai.”
Hatiku pun kian terusik, mendengar dia sakit dan
menyempatkan diri sms meski berada dilingkungan Ma’had yang tak boleh
berhubungan dengan lawan jenis, meski via telp atau sms. Jika melihat
diriku sendiri, kadang bertanya apakah aku pantas mendapatkannya. Dia
orang yang terpandang, anak seorang pengusaha. Sedang aku hanyalah
seorang yang berlatar belakang dari keluarga sederhana. Meski jodoh
memang tak memandang wajah atau rupa, pangkat atau kedudukan, tapi aku
hanya khawatir dengan apa yang akan aku lakukan kepadanya setelah
menikah nanti.
Ah… aku pun mulai membuang rasa was-was itu. Selama
ini dia sudah melakukan apapun sebagai bukti cintanya kepadaku. Tidak
ada salahnya jika aku berdoa, semoga Allah mempertemukanku dengannya
dalam ikatan suci. Meski apa yang aku dan dia lakukan selama ini tidak
diperkenankan oleh syariat.
Aku pun kadang mulai menyenandungkan syair, bak seorang melankolis yang dimabuk cinta:
“Kasih dengarlah hatiku berbicara
Kasih izinkan diriku bertanya
Bisakah cinta bersemi
Mengundang restu Ilahi
Adakah bahagia yang diimpi
Menjadi satu realiti.”
(Impian Kasih – Inteam)Setahun
kemudian musim liburan tiba. Dia pun pulang ke rumah. Pagi-pagi selesai
subuh, dia menelponku. Dia memberikan kabar kalau seminggu lagi
kakaknya akan melangsungkan pernikahan. Aku pun diminta untuk menghadiri
walimatul ‘ursy-nya. Tak hanya dia yang menyambut suka cita itu.
kakaknya pun tak kalah menghubungiku, “Akhy, doakan Ana. Semoga Allah
memberkahi pernikahan kami nanti. Ana doakan semoga akhy segera
menyusul. Tidak ada dua tahun dik Maziah lulus. Orang tua Ana bilang,
insyaallah setuju akhy menikah dengannya.”
Mataku berkaca-kaca
mendengar hal itu. Seakan kebahagiaan sudah dihadapanku. Menyambut cinta
agar tak tersulam noda. Cinta yang masih tertahan karena syariat yang
membataskan. Tapi kali ini hatiku pun kadang bertanya, lima hari berlalu
tidak ada sms dari Maziah, padahal dia ada di rumah, tidak di Ma’had.
Ah, aku pun cuma berkhusnudzon, mungkin dia lagi sibuk untuk bantu-bantu
menyiapkan keperluan pernikahan kakaknya, sehingga dia tak sempat untuk
menghubungiku.
Hari-hari yang dinanti kakaknya pun tiba. Hari
dimana ia melepaskan baju keperawanannya. Tak lupa aku membawa sebungkus
kado dan sebaris doa untuk ku persembahkan di pernikahan kakaknya. Ku
mulai masuk gedung yang dipakai untuk pernikahan. Aku memang terlihat
asing dan tak ada orang yang aku kenal. Aku pun dipersilahkan duduk oleh
among tamu.
Sejenak, terlihat agak kejauhan di depanku ada sosok
wanita berkacamata, berjubah coklat dan bercadar memerhatikanku. Hatiku
pun berkata, sepertinya wajah itu tak asing lagi. Seperti wajah Maziah.
Tapi, kenapa dia bercadar?! Aku pun semakin ragu, mungkin dia orang
lain. Tak lama, wanita itu kemudian pergi. Aku pun mengirimkan sms
kepada Maziah, kalau selesai acara nanti aku ingin bertemu dengannya di
samping pintu masuk halaman gedung.
Hampir satu jam tak ada sms
balasan darinya, padahal acaranya sudah usai. Aku pun keluar dari
gedung, dan menunggu balasan sms-nya sambil duduk di motor. Langit yang
tadinya mendung kini setetes demi setetes menurunkan hujan. Aku pun
segera mengendarai motorku untuk pulang ke kota Berseri. Belum ada
sekilo aku melaju, tiba-tiba HP-ku berdering, ada sms masuk, dari Maziah
“Akhy sekarang dimana?”
Tapi hujan yang mulai kian lebat, membuatku
mengurungkan niat untuk menemuinya. Aku membalas sms-nya, “Maaf saya
sudah di jalan. Nanti malam saja saya sms.”
Dan malam pun singgah kembali. Dia pun mengirimkan sms duluan, “Afwan akhy, tadi lama balas sms-nya, karena baru repot.”
“Tidak apa-apa. Tapi tadi kok saya nggak lihat anty ya?!”
“Akhy lihat kok. Tadi Ana yang pakai jubah warna coklat.”
Perlahan
aku pun menghembuskan nafas. Ternyata sosok wanita yang aku lihat tadi
benar Maziah. Kini dia sudah berubah dari Maziah sebelumnya. Maziah yang
dulu polos, dengan wajah berhias jilbab besar. Mungkin kini dia sudah
memenempuh jalan yang dia kehendaki.
Belum begitu lama, dia pun sms lagi, “Akhy, apakah antum masih menyimpan rasa cinta untuk Ana?”
Dalam
hatiku ingin berkata, ‘Pasti Maziah. Selama ini aku terus berdoa semoga
kelak Allah mempertemukan kita dengan pernikahan suci.’
Aku pun segera mencoba membalas sms-nya, “Kenapa tanya seperti itu?”
Tak
begitu lama dia pun membalas, “Akhy, Ana tahu. Fiqrah dan jalan kita
berbeda. Jika Antum masih mencintai Ana dan ingin menikahi Ana, cukuplah
Antum masuk kedalam jamaah Ana sebagai maharnya.”
Mendengar itu,
seakan bumi ini runtuh. Hatiku hancur, terasa sakit. Perlahan air mata
ini pun keluar membasahi pipiku. Meski aku seorang lelaki, yang tak
pantas menangis hanya gara-gara cinta. Tapi dia-lah seorang wanita yang
pertama kali mengungkapkan cintanya kepadaku dan dialah yang selalu
perhatian kepadaku. Kini tiba-tiba dia melontarkan kata yang tak aku
duga. Memang sebelumnya aku tahu, tentang fiqrah kita yang berbeda. Tapi
karena perhatian dan cintanya yang tulus kepadaku, menjadikanku ingin
mencintainya dan menjadikannya sejalan denganku.
Lama aku belum
membalas sms-nya, karena aku masih memikirkan tentang kata-kata itu.
Hingga akhirnya kalimat inilah yang aku kirimkan:
“Semoga anty mendapatkan yang lebih baik dari saya.”
Begitulah
balasan yang aku berikan. Meski air mata ini terus menitik. Meski hati
ini terus terusik. Karena cinta memang harus memilih. Memilihnya atau
memilih teguh untuk terus di jalanku. Selama ini organisasi yang aku
ikuti sudah memberiku banyak arti dan memberiku banyak pelajaran.
Terlebih menjadikanku menuju pribadi yang lebih baik. Mengenalkanku arti
ukhuwah dan islam yang syamiil. Aku cuma ingin tetap teguh menjaganya,
barangkali sebagai wujud syukurku kepada-Nya. Syukur karena Dia telah
mempertemukanku dengan teman-teman yang selalu mengajak kebaikan di
jalan ini. Meski terasa sakit tapi inilah pilihan yang memang harus aku
pilih.
Tak lama dia pun mengirimkan sms lagi, “Maafkan akhy jika
selama ini Ana melukai hati Antum. Lupakan semua yang telah kita lakukan
bersama.”
Aku pun kembali mengadu kepada-Nya. Kepada Dia yang dulu
mempertemukanku dengannya, “Ya Allah, salah apa aku kepadanya. Kenapa
dia berbuat seperti itu kepadaku.”